• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • News Update
  • Opini
  • Pariwisata
  • Advertorial
  • Politik
  • Tokoh
  • Nasional
  • More
    • Nusantara
    • Fokus Riau
    • Fokus Indragiri
    • Hukrim
    • EkoBis
    • Ragam
    • Pendidikan
    • Tekno-Sains
    • Sport
    • Internasional
    • SosHum
    • Religi
    • Mom-Woman
    • Entertain
    • Sastra Budaya
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
Juventini Inhil Kalahkan IPMI FC 2-0, Melaju ke 16 Besar Bhabinkamtibmas Cup III Sungai Luar
27 April 2026
Melampaui Bansos: Menata Ulang Definisi Fakir Miskin dan Jalan Keluar Struktural Berkelanjutan
18 Maret 2026
Jariyah! Jelang Ramadan, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan Masyarakat Indonesia ke Masjidil Aqsa, Palestina
16 Februari 2026
APBD Tertahan, Denyut Nadi Pemerintahan Sanggup Bertahan?
18 Januari 2026
Solusi Pinjaman Daerah 200 M, Bupati Herman Tegaskan Pembangunan Tidak Boleh Terhenti Ditengah Tekanan Fiskal!
30 November 2025

  • Home
  • Tokoh
  • Inhil

Tiada Masa Depan Tanpa Hari Kemarin

Redaksi Exc.

Ahad, 20 September 2020 13:15:51 WIB
Cetak

Oleh : Andres Pransiska

Marwahrakyat.com, Inhil -- Dalam sebuah kesempatan diskusi di kelas disuatu sekolah tempat saya mengajar sejarah disebuah pelosok Indonesia. Pernah saya bertanya kepada anak-anak murid saya, "Adakah yang tahu siapakah pahlawan nasional yang berasal dari Riau??". Semuanya diam, suasana hening, dan terlihat lipatan kerutan diwajah mereka. 

Diam dan heningnya mereka bukan karena pertanda mereka tahu, justru sebaliknya tidak ada satupun diantara mereka yang tahu. Kemudian saya lanjutkan pertanyaan saya, "Siapakah yang tahu pahlawan nasional Indonesia??", Satu dua mereka menjawab, "Pangeran Diponegoro Pak", ada yang menjawab Tuanku Imam Bonjol, ada yang menjawab Kartini, ada yang menjawab Cut Nyak Dhien, dan lebih banyak yang diam membeku. 

Kemudian kembali saya lanjutkan pertanyaan, "Adakah yang tahu alasan kenapa mereka dijadikan pahlawan nasional??". Kembali suasana kelas menjadi hening. Dan tak jarang ada yang garuk garuk kepala. 

Begitulah adanya sekelumit masalah yang kadang kita temukan ketika mengajar sejarah. Jangankan untuk mengetahui kiprah dan perjuang mereka sebagai pahlawan nasional di Riau, untuk sekedar tahu namanya saja mereka banyak yang tidak tahu. Padahal notabenenya mereka, anak-anak murid saya adalah orang-orang Riau. Masa orang Riau tidak tahu dengan pahlawan Riau?? 

Maka jika saya sebagai gurunya tidak menjelaskan dan memancing dengan pertanyaan tadi, mungkin mereka tidak akan mengetahuinya sama sekali. 

Kalau kita cermati, Jika mereka yang belajar sejarah dengan Jam pelajaran yang banyak saja masih banyak yang "buta sejarah", apalagi jika Mapel sejarah akan dihapuskan dan dikurangi jumlah jamnya. Maka akan menjadi lebih parah lagi, yakni "Amnesia Sejarah". Ini hanya satu dari sekian banyak studi kasus belajar sejarah disekolah. Masih banyak kisah-kisah yang lainnya. 

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika Sejarah dihapuskan dan dikurangi jamnya dari mata pelajaran di sekolah. 

Polemik Penghapusan dan pengurangan jam pelajaran Mapel Sejarah kini memasuki tahap baru, setelah beredarnya data mengenai sosialisasi kurikulum dan assessmen nasional dari kementrian pendidikan dan kebudayaan. Menuai banyak tanggapan dan kritikan mulai dari berbagai kalangan termasuk diantaranya adalah para Guru Sejarah yang tergabung di AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia). Sehingga sebagai bentuk penyikapan dibuatlah Webinar yang digagas oleh IKA Pendidikan Sejak UPI dengan tema, "Matikan sejarah: kritik atas rancangan kurikulum 2020" pada hari Kamis, 17 September 2020. 

Pasca dari pertemuan tersebut, tak lama berselang munculah siaran pers dari Kementiran Pendidikan dan Kebudayaan Tentang "Pelajaran Sejarah akan tetap ada didalam kurikulum". 

Ada sebuah kerancuan ketika kita mencermati dan memahami siaran pers tersebut. Jika jika mengacu draft Penyederhanaan Kurikulum bahwa di SMA mata pelajaran sejarah memang tetap ada tapi "dilucuti" sebagai sebuah pilihan, bukan keharusan. Sedangkan di SMK mata pelajaran sejarah sama sekali dihilangkan dalam strukturnya.

Maka redaksi yang tepat sebenarnya adalah mengembalikan posisi mata pelajaran sejarah di SMA kedalam kelompok dasar/wajib bukan pilihan dan mengembalikan mata pelajaran sejarah di SMK yang dihapuskan. 

Jika sejarah sebagai sebuah mata pelajaran adalah bagian dari iktikad 
baik pemerintah kita untuk membangun jati diri bangsa dan untuk mengajarkan anak-anak supaya tidak melupakan sejarah bangsanya, terutama dari mata rantai terkecil yang bernama sekolah. Maka sudah sepantasnya jika hal-hal tersebut sepenuhnya harus didukung. Bukan hanya dari segi kata-kata belaka, melainkan juga dalam hal kebijakan. 

Bukan malah sebaliknya, mencoba menghilangkan, mengkerdilkan, bahkan mengurangi jam pelajaran sejarah yang dianggap penting. 

Bukankah founding father kita sendiri, Ir. Soekarno yang berkata Jasmerah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jika engkau meninggalkan sejarah yang sudah, engkau akan berdiri atas vacuum. Engkau akan berdiri di atas kekosongan, lantas engkau akan menjadi bingung. Perjuanganmu hanya sebatas amuk. Amuk belaka! Amuk, seperti kera terjepit dalam gelap. ( Jasmerah : hal 204).

Inilah isyarat bahwa kemajuan saat ini, tidak bisa lepas dari campur tangan perjuangan orang-orang dulu, nenek moyang. Jadi, tak mungkin membuang hasil masa lampau. Sebab, kemajuan sekarang adalah akumulasi hasil-hasil perjuangan-perjuangan masa lalu. Dengan kata lain, sejarah harus dikenang dan diabadikan.

Dengan sejarah seseorang bisa tahu kejadian masa lampau. Lewat sejarah pula orang Indonesia bisa menikmati kehidupan damai dan tenteram sekarang. Maka sejarah sebagai pembelajaran untuk menemukan pengetahuan baru untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dan penuh kerukunan.

Maka benarlah, Untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak perlu membombardir negara tersebut. Cukup hancurkan ingatan (sejarah) anak-anak mudanya. 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, kenapa bangsa ini tidak pernah besar, karena tidak mau menghargai sejarahnya.


 Editor : **//FL

[Ikuti MarwahRakyat.com Melalui Sosial Media]


MarwahRakyat.com

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Mengizinkan Penggunaan Mobnas Berlebaran, Hanya di Wilayah Propinsi Riau

Hidup ini Nggak Selamanya Dhuha

Westernisasi: Ancaman yang Terlupa

Simak Sambutan Penuh Hikmah Ahmad Syaikhu dalam Diklat Kepemimpinan Tingkat Nasional

Asal Mula Budidaya Kelapa Indragiri Hilir

APDESI:Kekompakan Para Kades Se-Inhil Beri Empati Sambung Rasa Untuk Almarhum Wayan Diana Kades Sekara

Hidup ini Nggak Selamanya Dhuha

Bola Panas Pemecatan Mantan Dirut BUMD Tuah Sekata Yang Akan Menggugat Ke PTUN!

Westernisasi: Ancaman yang Terlupa

Kapten Arh Diding Sukardi: Bekerja Dan Beribadah Haruslah Seimbang

Pentingnya Gaya Hidup Terhadap Kesehatan Jantung

Buya Muhammad Gazali Menolak Tegas Timnas Israel Ikut Piala Dunia U-20

Terkini +INDEKS

Solidaritas dan Kepedulian, PGRI Inhil Salurkan Bantuan untuk Guru Korban Tanah Longsor di Tanah Merah

02 Juli 2026
Kadis PMD Yuliargo Imbau Kades se-Inhil Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
01 Juli 2026
Sinergi Jaga Kamtibmas, Kasubbag TU Kemenag Inhil Hadiri Upacara HUT Ke-80 Bhayangkara
01 Juli 2026
Diplomasi Moralitas: Wilson Lalengke Serahkan Buku "Ijazah Jokowi" kepada Duta Besar Rusia Sergey Tolchenov
25 Juni 2026
Musnahkan BB Narkotika 1,5 Kg Sabu dan 1060 Pil Ekstasi
25 Juni 2026
Bakti Kesehatan Hari Bhayangkara ke-80, Polres Inhil Hadirkan Pelayanan Kesehatan Gratis untuk Masyarakat
24 Juni 2026
Ngopi Bersama Insan Pers, Ketua PW IWO Riau dan Andi Darma Taufik Bahas Beragam Persoalan Masyarakat
24 Juni 2026
Ketua KNPI Inhil, Mahmudin Apresiasi Kinerja Bea Cukai Tembilahan Musnahkan Barang Ilegal Senilai Rp4,65 Miliar
24 Juni 2026
Bea Cukai Tembilahan Musnahkan Barang Hasil Penindakan Senilai Rp4,65 Miliar
24 Juni 2026
Jelang Penetapan RAPBN 2027, Hendry Munief Sinkronisasi Program dengan Dispar dan Disperindag Riau
24 Juni 2026

Terpopuler +INDEKS


PSSI Inhil Matangkan Persiapan PORPROV Riau XI 2027, KONI Lakukan Monitoring dan Evaluasi

Dibaca : 314 Kali
Akuatik Inhil Lepas Atlet ke Pekanbaru Ikuti Kejuaraan Riau Akuatik Ke-7 Antar Klub
Dibaca : 226 Kali
Momentum HUT Inhil ke-61, Anggota DPRD Riau Samsuri Daris Sebut Infrastruktur Jadi Keluhan Utama
Dibaca : 623 Kali
Sengit Day 3 Bupati Cup! Hai Cell dan Suka Maju Lolos Lewat Drama Adu Penalti
Dibaca : 549 Kali
Hari Kedua Bupati Cup: Taliban Friend dan Azka RCBN Grup Amankan Tiket ke 32 Besar
Dibaca : 547 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
MarwahRakyat.com ©2020 | All Right Reserved