• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • News Update
  • Opini
  • Pariwisata
  • Advertorial
  • Politik
  • Tokoh
  • Nasional
  • More
    • Nusantara
    • Fokus Riau
    • Fokus Indragiri
    • Hukrim
    • EkoBis
    • Ragam
    • Pendidikan
    • Tekno-Sains
    • Sport
    • Internasional
    • SosHum
    • Religi
    • Mom-Woman
    • Entertain
    • Sastra Budaya
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
Juventini Inhil Kalahkan IPMI FC 2-0, Melaju ke 16 Besar Bhabinkamtibmas Cup III Sungai Luar
27 April 2026
Melampaui Bansos: Menata Ulang Definisi Fakir Miskin dan Jalan Keluar Struktural Berkelanjutan
18 Maret 2026
Jariyah! Jelang Ramadan, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan Masyarakat Indonesia ke Masjidil Aqsa, Palestina
16 Februari 2026
APBD Tertahan, Denyut Nadi Pemerintahan Sanggup Bertahan?
18 Januari 2026
Solusi Pinjaman Daerah 200 M, Bupati Herman Tegaskan Pembangunan Tidak Boleh Terhenti Ditengah Tekanan Fiskal!
30 November 2025

  • Home
  • Opini
  • Info

Strategi Politik RI-1: Membongkar Kalkulasi Politik di Balik Paket Prabowo-Gibran dan Antitesis Gerakan Perubahan

Redaksi Exc.

Kamis, 18 Juni 2026 22:58:36 WIB
Cetak

 

_Oleh: M. Idris Hady_

Marwahrakyat.com, Bogor – Lanskap politik nasional pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 terus menyisakan ruang diskusi mendalam mengenai dinamika kekuasaan di Indonesia. Salah satu topik yang paling krusial untuk dibedah adalah kecerdasan taktis di balik keputusan Prabowo Subianto dalam menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden. Langkah ini bukan sekadar pemenuhan syarat elektoral biner, melainkan sebuah kalkulasi jitu politik kenegaraan yang berfungsi sebagai strategi pertahanan politik (political survival) guna memastikan keberlangsungan masa jabatan pemerintahan secara penuh dan stabil.

Secara historis, kejatuhan para pemimpin nasional di masa lalu, seperti era Presiden Soeharto maupun KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), terjadi ketika figur Wakil Presiden yang mendampingi mereka dinilai oleh publik memiliki kapabilitas serta kesiapan mumpuni untuk langsung mengambil alih kemudi kepemimpinan nasional. Kondisi tersebut secara tidak langsung menciptakan insentif politik bagi kelompok oposisi untuk melakukan penggulingan. Namun, dalam konteks Paket Prabowo-Gibran (Pra-Gib), narasi yang berkembang di masyarakat justru dikunci oleh sebuah jargon defensif: "Jangan gulingkan Prabowo, karena jika ia jatuh, maka Gibran yang akan naik menjadi presiden."

Bagi sebagian pemerhati, figur Gibran kerap diasumsikan belum sepenuhnya siap untuk memegang kendali tertinggi sebagai kepala negara. Di sinilah letak kalkulasi matang Prabowo Subianto. Struktur ini memaksa rakyat dan kelompok penekan berpikir jernih dan berulang kali sebelum memunculkan gerakan instabilitas. Taktik penguncian narasi ini sangat efektif untuk meredam syahwat politik kelompok-kelompok yang ingin melakukan interupsi di tengah jalan.

Kendati demikian, oposisi atau kelompok yang merasa gerah dengan kondisi bangsa yang dianggap sedang tidak baik-baik saja, tidak boleh kehilangan arah. Jika sebuah gerakan perubahan benar-benar ingin diakumulasikan, landasan berpikir yang digunakan harus komprehensif. Menjatuhkan presiden secara parsial adalah kekeliruan taktis. Gerakan perubahan yang matang harus memandang kepemimpinan nasional sebagai satu kesatuan yang utuh, artinya tuntutan yang diajukan harus bersifat satu paket: Presiden dan Wakil Presiden sekaligus.

Lebih dari sekadar menuntut pergantian kekuasaan, kelompok yang menginginkan perubahan radikal ditantang untuk membuktikan diri bahwa mereka tidak mengalami kekosongan gagasan (zero concept) maupun kekosongan figur (zero figure). Kelemahan mendasar dari gerakan oposisi sering kali adalah ketidakmampuan merumuskan cetak biru (blueprint) alternatif pasca-transisi kekuasaan. Sebuah gerakan akan dicap sebagai komunitas yang tidak rasional jika bergerak tanpa arah yang jelas. Sedikitnya, ada enam pilar konsep strategis yang wajib dimiliki oleh kelompok gerakan perubahan jika ingin dianggap kredibel oleh rakyat.

Pertama, pemenuhan figur pengganti yang jelas untuk posisi Presiden dan Wakil Presiden. Kedua, kesiapan konsep kabinet teknokratis yang menempatkan para menteri berdasarkan latar belakang keahlian serta profesionalisme murni di bidang keilmuannya masing-masing (zaken kabinet). Ketiga, komitmen konkret untuk melakukan pemiskinan terhadap para koruptor secara menyeluruh, yang tidak hanya mengandalkan sanksi jeruji besi, melainkan juga menerapkan sanksi sosial dan isolasi politik permanen.

Keempat, keberanian untuk mengembalikan dan menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945 secara murni dan konsekuen, guna memastikan bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara demi kemakmuran rakyat. Kelima, penataan ulang sektor fiskal dan penegakan hukum tata ruang, di mana pajak dari perusahaan raksasa, khususnya industri pertambangan yang mengeksplorasi Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia, harus diredistribusikan secara adil, disertai tindakan tegas berupa pencabutan izin dan penutupan bagi perusahaan yang melanggar aturan. Keenam, melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan asing atau aseng yang mendominasi pengelolaan aset strategis bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), agar marwah BUMN kembali ke khittah sejatinya sebagai sokoguru perekonomian bangsa.

Secara filosofis, tuntutan akan kejelasan konsep ini sejalan dengan gagasan Thomas Hobbes (1588-1679) dalam magnum opusnya, Leviathan. Hobbes menyatakan bahwa ketiadaan tatanan konsepsional yang jelas pasca-runtuhnya suatu kekuasaan hanya akan menjerumuskan masyarakat ke dalam kondisi "perang semua melawan semua" (bellum omnium contra omnes) dan kekacauan total (chaos). Tanpa adanya rumusan hukum positif dan cetak biru yang matang di dalam genggaman, menjatuhkan sebuah pemerintahan yang sah hanya akan melahirkan kesia-siaan yang mengorbankan stabilitas sosial. Oleh karena itu, kematangan visi ekonomi, politik, dan hukum merupakan harga mutlak yang membedakan antara gerakan intelektual yang substansial dengan sekadar amukan politik yang pragmatis.


Penulis adalah Sekjen Aliansi Damai Anti Penistaan Islam (ADA API)


 Editor : Vee

[Ikuti MarwahRakyat.com Melalui Sosial Media]


MarwahRakyat.com

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Pj Bupati Inhil: Apresiasi setinggi-tingginya Atas Sukses Gelaran Pelatihan Hakim Musabaqah Tilawatil Qur'an MTQ Kabupaten Indragiri Hilir 2024.

Resmi Berakhir! 'Sayup-sayup Kumendengar Berita' STY Dipecat PSSI

Meneliti Sejarah Perkembangan Islam di Afrika Selatan, Peneliti Negeri Rempah Foundation Berkunjung ke Cape Town

HMI : Entitas Politik dan Entitas Peradaban

Pj Bupati Inhil Hadiri Kongres Biasa ASKAB PSSI Inhil 2024

APBD Tertahan, Denyut Nadi Pemerintahan Sanggup Bertahan?

Pakar SIG, Putra Desa Kayu Raja, Dr. Amron Kritisi Peta RTRW Desanya: Konsep Penataan Ruang Tidak Jelas

Bahas Ranperda APBD tahun 2025, Fraksi-fraksi DPRD Rohil Sampaikan Pandangan Umum

Menteri Imipas - PP IWO Gelar Pertemuan, Bahas Edukasi WBP Hingga Rekernas

Hari Ini Rapat Paripurna Pengumuman Usulan Pemberhentian Kepala Daerah dan Penetapan Pasangan Bupati dan Wabup Periode 2025-2030 di Gelar DPRD Rohil

Serap Aspirasi Masyarakat, Anggota DPRD Samsuri Daris, Gelar Reses Perdana 2024 di Sei Intan

Tok! APBD 2025 Sebesar 2,6 Triliun di Sahkan DPRD Rohil

Terkini +INDEKS

Strategi Politik RI-1: Membongkar Kalkulasi Politik di Balik Paket Prabowo-Gibran dan Antitesis Gerakan Perubahan

18 Juni 2026
Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Sabak Auh Cek 1 Hektare Lahan Jagung Pipil di Siak
18 Juni 2026
SPMB 2026 di Inhil Gunakan Sistem Elektronik, Disdik Jamin Transparan dan Tanpa Pungutan
17 Juni 2026
Polres Inhil Gelar Bakti Sosial Pembagian Air Bersih Sambut Hari Bhayangkara ke-80 Tahun 2026
17 Juni 2026
Pakar Kelautan Kritisi Minimnya Ikan Laut dalam Menu MBG di Kabupaten Indragiri Hilir
17 Juni 2026
Momentum HUT Inhil ke-61, Anggota DPRD Riau Samsuri Daris Sebut Infrastruktur Jadi Keluhan Utama
14 Juni 2026
Sengit Day 3 Bupati Cup! Hai Cell dan Suka Maju Lolos Lewat Drama Adu Penalti
13 Juni 2026
Hari Kedua Bupati Cup: Taliban Friend dan Azka RCBN Grup Amankan Tiket ke 32 Besar
12 Juni 2026
DLHK Inhil Diminta Jangan Tunggu Aduan, 40 Dapur MBG Harus Diawasi Ketat
11 Juni 2026
Hentikan Aktivitas Sejenak! Camat Tembilahan Ari Syuria Serukan Gerakan Jum'at Bersih Serentak Besok Pagi
11 Juni 2026

Terpopuler +INDEKS


Momentum HUT Inhil ke-61, Anggota DPRD Riau Samsuri Daris Sebut Infrastruktur Jadi Keluhan Utama

Dibaca : 453 Kali
Sengit Day 3 Bupati Cup! Hai Cell dan Suka Maju Lolos Lewat Drama Adu Penalti
Dibaca : 411 Kali
Hari Kedua Bupati Cup: Taliban Friend dan Azka RCBN Grup Amankan Tiket ke 32 Besar
Dibaca : 437 Kali
Dialihkan akibat Penonton Membludak, Panitia Tegaskan Tiket Bupati Cup Indragiri Hilir 2026 Tetap Berlaku
Dibaca : 860 Kali
Korlantas Polri Tunda Operasi Patuh 2026, Ditlantas Polda Riau Ajak Masyarakat Tetap Tertib Berlalu Lintas
Dibaca : 295 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
MarwahRakyat.com ©2020 | All Right Reserved