Analisis Pengukuran Kasus Stunting Desa Simpang Tiga Kateman Tahun 2024
INHIL - Dari grafik diatas menunjukkan prevalensi stunting di Desa Simpang Kateman mengalami peningkatan dari 7 kasus pada tahun 2022 menjadi 14 kasus pada tahun 2023. Namun terjadi penurunan dari 14 kasus pada tahun 2023 menjadi 9 kasus pada tahun 2024.
Prevelensi stunting mengalami penurunan dari tahun 2023 ke 2024. Hal ini menunjukkan bahwa adanya konvergensi program/intervensi upaya percepatan pencegahan stunting telah mampu menurunkan prevalensi stunting di Desa Simpang Kateman namun belum maksimal, perlunya adanya langkah-langkah penanganan yang lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk menurunkan angka stunting secara lebih signifikan di tahun-tahun mendatang.
Berbagai upaya yang telah ditempuh di Kecamatan Pelangiran guna menurunkan angka stunting melalui perbaikan gizi di masa 1.000 Hari pertama Kehidupan (HPK), yaitu :
1. Semakin gencarnya Sosialisasi ASI Ekslusif (Kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita)
2. Sosialisasi Pendampingan Pemberian MP-ASI pada balita
3. Pendidikan Gizi untuk Ibu Hamil
4. Pemberian TTD pada Remaja Putri di sekolah
5. Penyuluhan Isi Piringku dan GERMAS di Sekolah
6. Pemberian TTD untuk Ibu Hamil
7. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil yang mengalami KEK
8. Konseling Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada anak yang baru lahir
9. Pemberian Makan pada Bayi, dan Anak (PMBA)
10. Pemberian Susu pada Balita Gizi Kurang
11. Pemberian Mikro Nutrient (Taburia)
12. Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita
13. Pemberian Obat Cacing, Program Kesehatan lingkungan
14. Penyediaan Sarana dan Prasarana Air Bersih dan Sanitasi
15. Dilaksanakannya tatalaksana bagi balita gizi buruk rawat jalan maupun rawat inap
16. Rujukan balita bermasalah gizi terutama stunting dari desa ke puskesmas
17. PENCETIN (PElangiraN CEgah stunTINg) sebagai salah satu kegiatan Inovasi dari UPT Puskesmas Pelangiran dalam upaya pencegahan Stunting di Kecamatan Pelangiran.
1. Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian
Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Eklusif dan perilaku merokok orang tua/keluarga dirumah. Beberapa wilayah mengalami kesulitan dalam akses air bersih dan jamban yang mana hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa daerah yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang sulit untuk diubah. Remaja Putri telah mendapatkan intervensi berupa pemberian Tablet Tambah Darah remaja yang ada disekolah. Namun, ada sebagian remaja putri yang masih belum mau mengkonsumsi TTD secara teratur meskipun telah mendapatkanya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut.
2. Perilaku Kunci Rumah Tangga 1.000 HPK yang Masih Bermasalah
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana bersama dengan Puskesmas juga telah melakukan monitoring sekaligus analisa masalah yang terjadi didesa menunjukkan Pola Asuh Balita, Pola Konsumsi Ibu Hamil dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat masih membutuhkan Intervensi dan pembinaan pada Tahun 2024 ini Ibu hamil Anemia dan kurang Energi Kronis telah mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Dengan adanya penanganan Ibu Hamil KEK tersebut menunjukkan pendampingan dapat menekan terjadinya stunting dan BBLR dari ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Anemia yang ada.
3. Kelompok Sasaran Beresiko
Kelompok beresiko yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Remaja putri, Calon Pengantin Ibu Hamil, Bayi, dan Usia Bawah dua tahun (Baduta). Remaja putri perlu disiapkan untuk menjadi calon pengantin pada usia idealnya, sehingga saat hamil dapat menjadi ibu hamil yang sehat dan berperilaku sehat, sehingga bayi yang dikandungpun dapat lahir dengan selamat, sehat dan cerdas. Bayi yang telah dilahirkan tersebut berhak untuk mendapatkan ASI ekslusif dan Pemberian Makan Bayi dan Anak yang sesuai sehingga pertumbuhan otaknya dapat optimal dan tumbuh menjadi anak yang sehat pintar dan cerdas serta bebas dari stunting.
Pemerintah di kecamatan Pelangiran sangat mengharapkan dukungan dari berbagai Lintas Sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di Kecamatan Pelangiran. Upaya pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi. Pemerintah Desa/Kelurahan diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan partisipasi aktif dalam hal ini.

Berita Lainnya
Pemkab Inhil Beri Bonus Umroh Dan Uang Tunai Pada Pemenang MTQ
H.Fuad Ahmad,SH,MH.Calon Bupati Rohil Maju Untuk Rokan Hilir Tuk Lebih Baik
DP2KBP3A Gelar Minilok di Pulau Burung
Dapur Queen, Rekomendasi Tempat Nongkrong dengan Kuliner Lezat!!
DPRD Inhil Laksanakan Paripurna Dalam Rangka PAW Anggota Komisi IV
APDESI Inhil Apresiasi Penilaian Desa Terbaik Tahun 2023 : Ini Memotivasi Kinerja Desa
Rapat Penyelesaian Tapal Batas Wilayah Kelurahan dan Desa Dipimpin Langsung Oleh Ferry H Parya
Pimpinan Apel Gelar Senja, Bupati HM WARDAN Inginkan Gerakan Pramuka Kembali Berjaya di Kabupaten Indragiri Hilir
DPMPTSP Kabupaten Inhil Perkuat Aplikasi SIMPATI Terintegrasi
Kepala DP2KBP3A Bersama Forum Genre dan Anak, Kunjungi Kediaman Bupati Inhil
Pj Bupati Inhil Herman Nobar Bersama Masyarakat Dukung Kesebelasan Timnas U23
Dinkes Inhil: Tips Atasi Nyeri Selama Kehamilan dengan Aman dan Efektif