• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • News Update
  • Opini
  • Pariwisata
  • Advertorial
  • Politik
  • Tokoh
  • Nasional
  • More
    • Nusantara
    • Fokus Riau
    • Fokus Indragiri
    • Hukrim
    • EkoBis
    • Ragam
    • Pendidikan
    • Tekno-Sains
    • Sport
    • Internasional
    • SosHum
    • Religi
    • Mom-Woman
    • Entertain
    • Sastra Budaya
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
Polemik Bupati Cup Inhil 2026 Terjawab! Komite Hukum PSSI Tegaskan Turnamen Merupakan Agenda Resmi Organisasi
25 Juli 2026
Pansus RUU Daerah Kepulauan Kunker ke Kepri, Hendry Munief Harapkan Konsep Ekonomi Biru Dapat Diakomodir
22 Juli 2026
Babak 16 Besar Bupati Cup Inhil: Pinang Jaya Melaju Lewat Gol Cantik King Polo
05 Juli 2026
Juventini Inhil Kalahkan IPMI FC 2-0, Melaju ke 16 Besar Bhabinkamtibmas Cup III Sungai Luar
27 April 2026
Melampaui Bansos: Menata Ulang Definisi Fakir Miskin dan Jalan Keluar Struktural Berkelanjutan
18 Maret 2026

  • Home
  • Religi
  • Kuansing

Agama

Asbabul wurud sebagai sarana memahami kontekstualitas suatu hadis

Redaksi Exc.

Sabtu, 13 Februari 2021 11:44:26 WIB
Cetak
Ilustrasi

Kuansing -- Pemahaman masyarakat muslim dalam memahami makna suatu hadis terkadang terjadi kekeliruan. Hal ini dipicu oleh minimnya pengetahuan serta kurangnya dalam menggali informasi mengenai status hadis yang dibaca. Kerap kali seseorang berdalil menggunakan suatu hadis, sedangkan hadis yang digunakan tidak relevan dengan konteks yang dibicarakan.

Maka dalam hal ini, perlu kiranya menggali terlebih dahulu asal muasal dari suatu hadis. Kita perlu tahu latar belakang apa yang membuat suatu hadis itu diucapkan, dilakukan atau ditakrirkan oleh nabi. Berangkat dari pemahaman inilah kita akan mengerti makna dan fungsi dari suatu hadis. 

Bahkan terkadang suatu hadis dengan hadis lainnya mengalami kontradiktif. Untuk memahami hal seperti ini, dalam studi ilmu hadis dikenal dengan istiliah “asbabul wurud”. 

TERKAIT
  • Tingkatkan Kualitas Pendidikan Mahasiswa Riau, RAPP Kembali Serahkan Beasiswa Pendidikan
  • Tingkatkan Kerjasama, 5 Universitas di Riau Tandatangani Nota Kesepahaman
  • Penggiat Literasi Rokan Hulu Diskusi Literasi tentang Menulis Berita

Asbabul wurud merupakan salah satu ilmu dalam memahami suatu hadis. Sebuah hadis yang mengabaikan asbabul wurud cenderung akan memahami hadis secara tekstual dan mengabaikan latar belakang yang jauh lebih penting untuk memahami hadis tersebut. maka pada artikel ini penulis mencoba untuk membahas mengenai peranan asbabul wurud dalam memahami makna suatu hadis.

 

*Pengertian asbabul wurud*

 

Asbabul wurud berasal dari kata asbab artinya sebab-sebab, dan al wurud artinya sampai, muncul dan mengalir .  Dari terjemahan perkata tersebut dapat difahami bahwa asbabul wurud ialah sebab-sebab kedatangan atau munculnya sesuatu.

Adapun menurut imam as-suyuthi asbabul wurud ialah :

 “segala sesuatu yang menjadi metode untuk membatasi makna hadis, baik dari makna umum, khusus, mutlaq-muqayyad, atau naskh dan semacamnya.

Atau lebih jelas as-suyuthi menyebutnya: 

"suatu kejadian yang mengiringi sebuah hadis pada masa terjadinya hadis tersebut ." 

Adapun menurut hasbi ash-shiddiqiey asbabul wurud diartikan sebagai “ilmu yang menerangkan sebab-sebab nabi ? menuturkan sabdanya dan masa-masa nabi ? menuturkannya”

Sedangkan menurut yahya isma’il ahmad memberikan definisi asbabul wurud ialah “ sesuatu (baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan) pada waktu hadis itu disampaikan oleh nabi”.

Berdasarkan tinjauan teoritis diatas, jika dicermati pendapat suyuthi tersebut lebih mengarah kepada fungsi asbabul wurud hadis, baik yang bersifat ‘amm atau khass, mutlaq atau muqayyad, naskh atau mansukh dan sejenisnya.

Adapun dua pendapat lainnya menjelaskan secara umum tentang latar belakang suatu hadis  atau asal muasalnya. Memahami latar belakang atau asbabul wurud hadis membuat seseorang menjadi lebih faham maksud hadis secara kontekstual, tidak hanya secara tekstual. Sebab, dalam memahami suatu hadis secara tekstual akan menyebabkan salah penafsiran dan salah mengaplikasikan hadis sesuai yang diinginkan oleh nabi.

Dari beberapa definisi diatas juga dapat disimpulkan bahwa makna yang diinginkan adalah kontekstualitas historisitas. Sebab, dari sekian banyak hadis nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat hampir rata-rata semuanya berangkat dari suatu sebab yang mengharuskan nabi mengatakan, melakukan atau mentakrirkan sesuatu.

Dalam perspektif ini, memahami asbabul wurud untuk mengetahui makna yang diinginkan oleh suatu hadis bukanlah tujuan yang ingin penulis kemukakan, melainkan hanya sarana untuk mengetahui serta memperoleh ketetapan makna dan pesan yang terkandung dalam suatu hadis.

Oleh karena itu, memahami matan hadis dengan melihat asbabul wurudnya tentu akan memberikan pemahaman yang mendekati apa yang dimaksudkan nabi terhadap hadits tersebut.

 

Urgensi asbabul wurud

Asbabul wurud memiliki peranan penting untuk menyampaikan pesan dari suatu hadis. Sebab, hadis yang disampaikan nabi biasanya bersifat kasuistik, kultural, bahkan temporal . Oleh sebab itu, memperhatikan latar belakang munculnya hadis secara konteks historisitas menjadi sangat penting. Hal ini agar menghindarkan kesalahpahaman dalam menangkap maksud suatu hadis agar tidak terjebak pada arti teks semata.

Berikut beberapa urgensi asbabul wurud antara lain: 

1. Mempermudah memahami hadis-hadis. Dengan mengetahui latar belakang suatu hadis, memberikan kemudahan dalam pemahaman makna suatu hadis.

2. Membatasi pengertian hadis yang masih mutlaq. Sebagaimana pada contoh hadis berikut :

“kalian lebih tahu tentang urusan duniawimu”.

Secara sekilas jika difahami dari makna tekstualitas, hadis ini menjelaskan seakan-akan nabi tidak ahli dalam urusan duniawi. Namun setelah ditinjau asbabul wurud dari hadis diatas, ternyata secara kontekstual hadis ini menjelaskan berkaitan dengan pencangkokan pohon kurma, yang dalam hal ini para sahabat lebih ahli. Maka nabi menyerahkan urusan pencangkokan tersebut kepada para sahabat. 

Hal ini tentu akan berbanding terbalik jika hanya difahami secara tekstual. Maka, itulah fungsi asbabul wurud untuk membatasi pengertian hadis yang masih mutlaq.

3. Mentafsil, merinci atau memperjelas hadis yang masih bersifat global.

4. Menentukan nasakh dan mansukh. Jika suatu hadis terlihat ta’arud (saling bertentangan maknanya), maka asbabul wurud sebagai solusi mengetahui mana hadis yang telah dinasakh oleh hadis yang datang kemudian.

5. Menjelaskan suatu hadis yang masih musykil atau sulit difahami.

6. Mengetahui hikmah disyari’atkan suatu hukum. 

 

Faktor-faktor nabi meriwayatkan hadis

1. Faktor yang muncul dari pribadi nabi ? sebagai pembicara

2. Faktor yang berkaitan dengan kondisi orang yang diajak berbicara

3. Aspek yang berkaitan dengan waktu atau masa dimana nabi menyampaikan sabdanya.

4. Aspek yang berkaitan dengan tempat atau kondisi geografis dimana nabi menyampaikan hadis .

 

Macam-macam asbabul wurud

Menurut imam as-suyuthi asbabul wurud terbagi menjadi tiga macam, diantaranya:

1. Sebab untuk menjelaskan ayat al qur’an.

Apabila saat turun wahyu para sahabat kebingungan akan makna dari ayat tersebut, maka nabi akan menjelaskannya kepada para sahabat.

2. Sebab untuk menjelaskan suatu hadis yang sulit difahami.

Biasanya hadis ini berupa Tanya jawab antara nabi dengan para sahabat. Ketika nabi menyampaikan suatu sabda, tetapi ada kata yang tidak difahami oleh para sahabat, maka nabi akan menjelaskan maknanya. Sebagai contoh: hadis tentang cinta dunia dan takut mati.

3. Sebab suatu hal yang berkaitan dengan para pendengar yang mendengar dikalangan sahabat.

Bahwa, suatu ketika seorang sahabat bernazar ketika terjadi fathu mekkah hendak sholat ke baitul maqdis, maka nabi bersabda agar tetap sholat dimasjidi haram, “masjidil haram lebih utama dari pada 100.000 kali shalat diselain masjid al haram”  .

Penutup 

Dari penjelasan diatas dapat beberapa kesimpulan yaitu:

1. Asbabul wurud merupakan kunci untuk memahami hadis secara kontekstualitas historisitas.

2. Asbabul wurud menjadi dasar dalam menyikapi suatu hadis yang ta’arud (saling bertentangan)

3. Dengan memahami asbabul wurud, memahami suatu hadis tidak terpaku dengan makna tektualitas semata.

 

 

Daftar Bacaan;

- Munzier suparta, Ilmu Hadis (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2008)

- Jalaluddin as-suyuthi, al-lumma’ fi asbabil hadis: Beirut Darul Kutub, 1984 M.

- Jurnal Tahdis, Volume 6 Nomor 2 tahun 2015

- Abdurrazaq dalam kitab al-mushannafnya.

- Abdul mustaqim, ilmu ma’anil hadis paradigma interkoneksi; Berbagai teori dan metode memahami hadis nabi. ( yogyakarta: Idea Press 2008)


Sumber : Opini /  Editor : Hendro

[Ikuti MarwahRakyat.com Melalui Sosial Media]


MarwahRakyat.com

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Bupati Inhil HM WARDAN Terima 1200 Mushaf Al-Qur'an Dari Sinar Mas Group

Penyuluh Agama Islam Kec. Tembilahan Laksanakan Lomba Da'i Muda Indragiri Hilir Tahun 2023

Alhamdulillah! Pejuang Subuh Keritang Taja Suling ke-100, Dewan Syuro PST Sokong Penuh

Dengan Prokes, Masjid Jami' Al Hasanah Sei. Beringin Selenggarakan Isra Miraj

Bank Mini Syariah STAI Auliaurrasyidin Berbagi Kebaikan Ramadhan

Ingatkan Keberkahan Hidup, Ustadz Sumardi Safari Dakwah ke Desa Surayya Mandah

Komunitas Jumat Berbagi Bagikan Seribu Lebih Alquran untuk Ponpes, TPQ dan Mushalla

Alhamdulillah! Pejuang Subuh Keritang Taja Suling ke-100, Dewan Syuro PST Sokong Penuh

Tamimi Ahmad : Puasa dan Pensucian Jiwa

Ustadz Sumardi Tausiah di MDTA Sabilah Muttaqin Keritang

Ketua MUI Tempuling Pimpin Proses Syahadatain Wanita Muallaf Dewi Zai

Resensi Buku: Mencari Islam, Ahmad Tamimi

Terkini +INDEKS

PKS Inhil Teguhkan Nasionalisme, Upacara 17 Agustus Jadi Ruang Meresapi Perjuangan Bangsa

17 Agustus 2026
KNPI Inhil: Memaknai Merdeka dengan Berbuat dan Tetap Jaga Kondusifitas
17 Agustus 2026
Warga Dituntut Tertib, Perusahaan Bagaimana?Kantor Pertanahan Inhil Diminta Transparan
16 Agustus 2026
Merajut Silaturahmi, Memperkokoh Ukhuwah: Presiden Komunitas Yaman Kunjungi Ketum PPWI
15 Agustus 2026
Intervensi Hukum dan Ironi Kemerdekaan: Menguji Profesionalisme Polri di Tanah Papua*
14 Agustus 2026
Amal Fathullah: Komisioner KI dan KPID Riau Diminta Perkuat Komunikasi dan Layani Kepentingan Publik
13 Agustus 2026
Siapkan Generasi Teknokrat Maritim , Danlanal Dumai Bekali Taruna Poltek Kp Dengan Wawasan Kebangsaan
13 Agustus 2026
PKS Inhil Dorong Evaluasi Pemilu 2024 dan Persiapan Pemilu 2029 Bersama KPU-Bawaslu
13 Agustus 2026
Hendry Munief Soroti UMKM Bersertifikat SNI di Bawah 1 Persen, Pemerintah Diminta Perkuat Pendampingan
12 Agustus 2026
HGU 22 Perusahaan Perkebunan Dipertanyakan, BPN Bungkam, PPWI akan Surati DPRD Inhil
12 Agustus 2026

Terpopuler +INDEKS


PKS Inhil Dorong Evaluasi Pemilu 2024 dan Persiapan Pemilu 2029 Bersama KPU-Bawaslu

Dibaca : 408 Kali
Samsuri Daris Tegaskan Komitmen Pidato Plt Gubri pada HUT Riau ke-69 Harus Terimplementasi di Lapangan
Dibaca : 238 Kali
Sapa Warga Reteh, Samsuri Daris Reses di Pulau Kecil, Metro, Pulau Kijang hingga Seberang Sanglar
Dibaca : 927 Kali
PD Salimah Indragiri Hilir Terima Hibah Inkubator Grashof dari Universitas Indonesia
Dibaca : 335 Kali
Reses di Tiga Tekulai, Samsuri Daris Serap Aspirasi Warga: Komitmen Bangun Desa Tetap Jalan
Dibaca : 1183 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
MarwahRakyat.com ©2020 | All Right Reserved