• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • News Update
  • Opini
  • Pariwisata
  • Advertorial
  • Politik
  • Tokoh
  • Nasional
  • More
    • Nusantara
    • Fokus Riau
    • Fokus Indragiri
    • Hukrim
    • EkoBis
    • Ragam
    • Pendidikan
    • Tekno-Sains
    • Sport
    • Internasional
    • SosHum
    • Religi
    • Mom-Woman
    • Entertain
    • Sastra Budaya
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
Polemik Bupati Cup Inhil 2026 Terjawab! Komite Hukum PSSI Tegaskan Turnamen Merupakan Agenda Resmi Organisasi
25 Juli 2026
Pansus RUU Daerah Kepulauan Kunker ke Kepri, Hendry Munief Harapkan Konsep Ekonomi Biru Dapat Diakomodir
22 Juli 2026
Babak 16 Besar Bupati Cup Inhil: Pinang Jaya Melaju Lewat Gol Cantik King Polo
05 Juli 2026
Juventini Inhil Kalahkan IPMI FC 2-0, Melaju ke 16 Besar Bhabinkamtibmas Cup III Sungai Luar
27 April 2026
Melampaui Bansos: Menata Ulang Definisi Fakir Miskin dan Jalan Keluar Struktural Berkelanjutan
18 Maret 2026

  • Home
  • Religi
  • Inhil

Kolom Pondasi

Tamimi Ahmad : Puasa dan Pensucian Jiwa

Redaksi Exc.

Sabtu, 02 Mei 2020 11:39:04 WIB
Cetak
Tamimi Ahmad, Marwahrakyat.com

Puasa dan Pensucian Jiwa
Oleh: Ahmad Tamimi

Ketika memasuki bulan Ramadhan, setiap muslim diharuskan berpuasa, hal ini dijelaskan dalam al-qur’an.“Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah:183). Ramadhan merupakan bulan istimewa yang secara amaliyah dapat digandakan pahala dan kebaikan bagi yang melaksanakannya secara ikhlas dan penuh iman. Oleh karena itu, untuk memahami kelebihan bulan ini lebih dalam dapat ditelusuri apa sesungguhnya pemaknaan Ramadhan, sehingga nantinya kita dapat memahami visi besar yang diatur Allah dalam satu tahun sekali yaitu dapat mensucikan jiwa serta membentuk karakter muslim takwa. Karena hari ini alam kemanusiaan kita sedang dilanda krisis prilaku, maka memahami korelasi puasa dengan prilaku umat begitu urgen.


Ramadhan dapat diartikan dengan mengasah, menghapus dan membakar. Dari tiga kata ini memiliki orientasi yang berbeda, Pertama; Membakar dapat diorientasikan kepada bentuk prilaku-pirilaku negative yang kaitannya bukan hanya dalam hubungan hamba dengan Allah saja tapi juga hubungannya dengan sesama manusia. Kedua; Menghapus, orientasi kata menghapus lebih kepada persoalan dosa-dosa  pribadi yang telah diperbuat selama hidup, baik dalam hubungan dengan Allah terlebih pada sesama manusia, targetnya adalah tersucinya jiwa dari bintik noda dan dosa. 
Sebagai manusia, tentu kita sangat bertanggungjawab kepada Allah SWT, karena awalnya (sejak kecil) telah dipinjamkan ruh dalam keadaan suci bersih bagaikan kertas putih. Maka, ketika akan dikembalikan juga harus dalam keadaan suci dan bersih pula. “Qad aflahaman zakkahaa waqad khaa baman dassaahaa” artinya; sungguh beruntunglah bagi orang-orang yang membersihkan hatinya dan sungguh merugi atau sengsara bagi yang mengotorinya. (Qs. As-syam: 9-10). Kenapa ketika dewasa (baligh) manusia senantiasa dianjurkan untuk mensucikan jiwanya?, hal ini di karenakan bahwa manusia selalu dihadapkan pada kondisi yang penuh dengan ketidak pastian  terutama soal kapan ajal akan menjemput, oleh karena itu ia dituntut untuk selalu bersiap-siap menghadap Sang Pencipta.
Ketiga: mengasah, apa sesungguhnya yang diasah?, yang diasah adalah “rasa”, rasa yang bersemayam di hati. Rasa terbagi atas dua, yaitu rasa ber-ke-Tuhanan dan rasa ber-Kemanusiaan. Adapun indikator munculnya rasa ber-Tuhan dapat dilihat dari sikap, misalnya setelah melakukan proses selama ramadhan bertambahnya kesadaran untuk mengabdi yang dibuktikan dengan prilaku amaliahnya dalam hidup keseharian. Kemudian indikator munculnya rasa berkemanusiaan ialah lahirnya prilaku baik dalam dunia pergaulan, seperti tingginya kepedulian sosial, paham dan mengerti akan keadaan orang lain serta senantiasa membantu dan mendo’akannya. Hidup di tengah masyarakat tidak membuat resah dan gaduh orang lain, selalu berpikir bahwa diriku bukan hanya untukku tapi juga untuk orang lain, hartaku bukan hanya untukku dan keluarga tapi juga ada hak orang lain. 
Inilah yang menjadi target dari amaliah ramadhan yang sekaligus memberi efek positif bagi kehidupan muslim secara individu maupun sosial. Sehingga akhir ramadhan nanti dapat diukur kembali hasil dari ritual yang telah dijalani selama satu bulan penuh apakah telah berhasil memberi sentuhan di wilayah kedua rasa ini. Oleh karena itu pada paragraf selanjutnya kita perlu meneruskan perbincangan ini untuk mendalami bagaimana sesungguhnya ibadah puasa mampu membentuk prilaku dan mensucikan jiwa pelakunya.

TERKAIT
  • RAPP Hibahkan Gedung Baru SPKT Polres Pelalawan Kepada Kapolda Riau
  • Buka Puasa Bersama UNRI dan PT RAPP, Bangun Sinergitas Pentahelix yang Kuat
  • Novrizon: Sebelum Ujian, Peserta akan Jalani Orientasi


Bicara puasa maka kita akan bicara tidak makan, bicara tidak makan pasti ada hubungan dengan tubuh, begitu juga bicara tidak minum pasti bicara rasa haus. Ada satu dorongan pada diri setiap manusia yaitu keinginan untuk makan, minum, marah, seks, hidup mewah dan lain-lain, ini juga yang disebut dengan dorongan alam rendah. Kenapa dalam perintah berpuasa manusia disuruh untuk menahan beberapa hal tersebut, karena salah satu fungsi penting puasa adalah ingin melepaskan dominasi ikatan materi yang senantiasa menjadikan nafsu sebagai penentu. Inilah yang membuat ruhani sulit aktif ke-Allah.
Hal yang senada sebagaimana dikutip M. Quraish Shihab dalam buku Madarij Al-Salikin ia mengemukakan pengalaman seorang sufi besar (Abu Yazid Al-Busthamy) yang konon suatu ketika bermunajad kepada Allah: “Yaa Allah bagaimana caranya berjalan menuju kehadirat-Mu? “ketika itu jiwanya mendengar suara bisikan: ”ketahuilah bahwa nafsu adalah gunung yang tinggi dan besar. Dialah yang merintangi perjalanan menuju Allah dan tidak ada jalan lain yang dapat ditelusuri kecuali mendakinya terlebih dahulu. Puasa adalah salah satu cara atau bulan latihan untuk menghalangi rintangan itu dengan berusaha terus mendaki mengalahkan tingginya puncak dominasi nafsu dalam diri.
Oleh karena itu, proses keberhasilan di medan perjuangan ramadhan bukan hanya dapat mengangkat pribadi tapi juga meninggikan ruhaninya menuju Allah sehingga tidak mudah disentuh oleh bujuk rayu iblis yang menggoda. Ketika itu ruhani sedikit demi sedikit tercerahkan sehingga mudah merespon kebesaran Allah. Jadi, ketika berpuasa kita belajar untuk mengendalikan hawa nafsu mulai dari awal Ramadhan hingga di akhirnya. Oleh karena itu ketika memasuki tanggal satu syawal kita diperintahkan untuk merayakan hari raya Idul Fitri yaitu hari kemenangan dan kebebasan, karena telah berhasil melewati proses latihan selama satu bulan penuh. 
Rasulullah menjelaskan bahwa; “Barang siapa yang berpuasa selama ramadhan dengan penuh keimanan dan perhitungan, maka akan dihapus semua dosanya yang telah lalu” (al-Hadist). Makna penuh keimanan adalah melaksanakan proses ibadah puasa benar-benar total karena Alllah SWT, sedangkan penuh perhitungan adalah benar-benar memanfaatkan kelebihan dan keagungan bulan ramadhan untuk mendidik diri sehingga menjadi pribadi takwa. Artinya visi meraih kesucian jiwa dan membentuk pribadi takwa hanya dapat diwujudkan ketika dilakukan dengan sikap iman yang sadar dan ketekunan dalam pelaksanaan.
Puasa merupakan sebuah amal yang dilakukan dengan niat yang penuh, dan saya meyakini sesuantu yang dilakukan secara berulang-ulang dengan niat atau kesadaran yang penuh akan mampu membentuk prilaku (karakter), terlebih ini dilakukan dalam tujuannya dengan Allah yang maha merespon niat dan doa. Satu contoh sederhana, setelah beranjak dewasa si Badu menjadi seorang yang pemabuk dan pencuri di Desa itu. Pertanyaannya adalah; apakah menjadi seorang pemabuk dan pencuri ini adalah cita-cita atau keinginan Si Badu dan orang tuanya?, barangkali tentu tidak, karena tidak seorangpun yang menginginkan anak atau dirinya menjadi penjahat. Akan tetapi kenapa si Badu menjadi penjahat, padahal dia dan orang tuanya sendiri tak pernah niat untuk menjadin jahat. Diri sini dapat kita simpulkan bahwa sesuatu yang tidak niat saja jika dilakukan secara terus-menerus akan membentuk prilaku, apalagi sesuatu yang dilakukan berulang-ulang yang dilandasi atas niat dan cita-cita yang sadar, tentu hasilnya lebih sempurna. Oleh karenaya saya meyakini bahwa proses puasa akan mampu membentuk prilaku, lahirnya prilaku baik merupakan konsekuensi logis dari bersihnya jiwa dari kotoran noda dan dosa sebagai hasil dari interaksi dengan Allah SWT.


Sumber : Artikel/ Opini /  Editor : Author

[Ikuti MarwahRakyat.com Melalui Sosial Media]


MarwahRakyat.com

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Jalan Seorang Pemimpin adalah Kesederhanaan dalam Pengabdian

Pemdes Sungai Intan Gelar Technical Meeting Lomba Baca Yasin Tahlil dan Doa Arwah

Doa Simpati Untuk Tertimpa Gempa

Shalat: Beban Perintah atau Kebutuhan Jiwa?

Hikmah: Setiap Hal Dan Urusan Pasti ada Kepentingannya

YPMR Inhil Dampingi Proses Syahadat Sanjai Purba Peluk Agama Islam

Bupati Inhil Bersama Rombongan Turut Sukseskan Pawai Ta'aruf MTQ Propinsi Riau XL

Gubernur Riau Bersama Bupati Inhil Laksanakan Sholat Subuh Berjamaah Di Mesjid Agung Al-Huda Tembilahan

Ketua Komunitas Jum'at Berbagi Resmikan Surau Jama'ah At-Taqwa di Kelurahan Sapat

Wakil Bupati Inhil Menghadiri Peringatan Isra Mi'raj di Kuala Tungkal Jambi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Sungai Intan Berlangsung Meriah dan Penuh Kekhidmatan

Muhasabah: Karena Senyuman dan Doa Oleh: Muhammad Ridha Shadik

Terkini +INDEKS

PKS Inhil Teguhkan Nasionalisme, Upacara 17 Agustus Jadi Ruang Meresapi Perjuangan Bangsa

17 Agustus 2026
KNPI Inhil: Memaknai Merdeka dengan Berbuat dan Tetap Jaga Kondusifitas
17 Agustus 2026
Warga Dituntut Tertib, Perusahaan Bagaimana?Kantor Pertanahan Inhil Diminta Transparan
16 Agustus 2026
Merajut Silaturahmi, Memperkokoh Ukhuwah: Presiden Komunitas Yaman Kunjungi Ketum PPWI
15 Agustus 2026
Intervensi Hukum dan Ironi Kemerdekaan: Menguji Profesionalisme Polri di Tanah Papua*
14 Agustus 2026
Amal Fathullah: Komisioner KI dan KPID Riau Diminta Perkuat Komunikasi dan Layani Kepentingan Publik
13 Agustus 2026
Siapkan Generasi Teknokrat Maritim , Danlanal Dumai Bekali Taruna Poltek Kp Dengan Wawasan Kebangsaan
13 Agustus 2026
PKS Inhil Dorong Evaluasi Pemilu 2024 dan Persiapan Pemilu 2029 Bersama KPU-Bawaslu
13 Agustus 2026
Hendry Munief Soroti UMKM Bersertifikat SNI di Bawah 1 Persen, Pemerintah Diminta Perkuat Pendampingan
12 Agustus 2026
HGU 22 Perusahaan Perkebunan Dipertanyakan, BPN Bungkam, PPWI akan Surati DPRD Inhil
12 Agustus 2026

Terpopuler +INDEKS


PKS Inhil Dorong Evaluasi Pemilu 2024 dan Persiapan Pemilu 2029 Bersama KPU-Bawaslu

Dibaca : 408 Kali
Samsuri Daris Tegaskan Komitmen Pidato Plt Gubri pada HUT Riau ke-69 Harus Terimplementasi di Lapangan
Dibaca : 238 Kali
Sapa Warga Reteh, Samsuri Daris Reses di Pulau Kecil, Metro, Pulau Kijang hingga Seberang Sanglar
Dibaca : 927 Kali
PD Salimah Indragiri Hilir Terima Hibah Inkubator Grashof dari Universitas Indonesia
Dibaca : 335 Kali
Reses di Tiga Tekulai, Samsuri Daris Serap Aspirasi Warga: Komitmen Bangun Desa Tetap Jalan
Dibaca : 1183 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
MarwahRakyat.com ©2020 | All Right Reserved