• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • News Update
  • Opini
  • Pariwisata
  • Advertorial
  • Politik
  • Tokoh
  • Nasional
  • More
    • Nusantara
    • Fokus Riau
    • Fokus Indragiri
    • Hukrim
    • EkoBis
    • Ragam
    • Pendidikan
    • Tekno-Sains
    • Sport
    • Internasional
    • SosHum
    • Religi
    • Mom-Woman
    • Entertain
    • Sastra Budaya
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
Polemik Bupati Cup Inhil 2026 Terjawab! Komite Hukum PSSI Tegaskan Turnamen Merupakan Agenda Resmi Organisasi
25 Juli 2026
Pansus RUU Daerah Kepulauan Kunker ke Kepri, Hendry Munief Harapkan Konsep Ekonomi Biru Dapat Diakomodir
22 Juli 2026
Babak 16 Besar Bupati Cup Inhil: Pinang Jaya Melaju Lewat Gol Cantik King Polo
05 Juli 2026
Juventini Inhil Kalahkan IPMI FC 2-0, Melaju ke 16 Besar Bhabinkamtibmas Cup III Sungai Luar
27 April 2026
Melampaui Bansos: Menata Ulang Definisi Fakir Miskin dan Jalan Keluar Struktural Berkelanjutan
18 Maret 2026

  • Home
  • Tokoh

Citizen Article #speakUp

Pudarnya Republikanisme pada Preferensi Demokrasi Indonesia

Redaksi Exc.

Senin, 27 April 2020 13:34:37 WIB
Cetak
Foto : Internet

Oleh: Guntur Winanda Putra, Marwahrakyat.com

Filsuf kontemporer Amerika, Michael Walzer, telah memetakan preferensi pada demokrasi, dan salah satunya adalah republikanisme. Preferensi ini harus dikenali perkembangannya karena langsung bersentuhan dengan rakyat (demos) dan pemerintah (kratos). Jika dilihat dalam bingkai bernegara, republikanisme merupakan sebuah tatanan yang berporos langsung pada rakyat. Dengan kata lain rakyat diletakkan sebagai subjek otoritas utama dalam menentukan arah tujuan Negara.

Dengan kerap terjadinya politisasi di dalam demokrasi prosedural telah mengakibatkan pergeseran arti pada politik, sehingga politik dinilai tidak manusiawi dan profan dalam pelaksanaannya. Maka dari itu, republikanisme diharapkan mampu mengembalikan hakikat politik yang mulia, yaitu kebaikan publik. Sesuai dengan apa yang telah direntangkan oleh Aristoteles, politik di posisikan sebagai kepentingan publik atau yang lebih dikenal dengan istilah Res Publika, atau dapat juga di posisikan sebagai etika sehingga politik bukan sekedar cara mencapai tujuan.

TERKAIT
  • Tingkatkan Kualitas Pendidikan Mahasiswa Riau, RAPP Kembali Serahkan Beasiswa Pendidikan
  • Tingkatkan Kerjasama, 5 Universitas di Riau Tandatangani Nota Kesepahaman
  • Penggiat Literasi Rokan Hulu Diskusi Literasi tentang Menulis Berita

Sedangkan di Indonesia sudah mencoba untuk menggunakan ideolistis ini sejak dari pra kemerdekaan lalu pasca kemerdekaan hingga kini. Pada masa pra kemerdekaan Indonesia gagasan republikan dipelopori oleh Tan Malaka melalui tulisan yang berjudul naar de republiek. Tan Malaka berusaha menyuguhkan tatanan bangsa yang hendak merdeka atas secara kolektif.

  Seiring perkembangannya, setidaknya Indonesia sempat memiliki nilai Republikanisme yang hampir sempurna dalam rentang waktu relatif singkat, di mana saat itu para pemuda memainkan posisi sentral dalam perubahan politis. Tercatat ada tiga peristiwa yang membanggakan pada demokrasi Indonesia, dimulai pada tahun 1945, lalu tahun 1965-1966, hingga yang monumental pada tahun 1998 melalui pergerakan Mahasiswa dalam menggulingkan masa orde baru. 

Meskipun memiliki energi yang kuat di awal-awal reformasi, dan dapat dikatakan semakin melek-politik. Namun dengan adanya pergeseran masa membuat energi ini semakin pudar dengan banyaknya kasus penyelewengan serta demokrasi yang berjalan tidak sehat. Saat ini kita hanya dapat melihat republikanisme berkobar secara antusias pada kampanye hingga menjelang Pemilu dan begitu saja usai tanpa adanya pembangunan nilai komunitas politis atau solidaritas sosial dari pemerintah yang terbentuk. Asumsi yang mengatakan bahwa rendahnya kesadaran politik tidak dapat ditunjuk sebagai penyebab tunggal mengapa preferensi republikan kandas seusai demonstasi ataupun seusai Pemilu. Secara realitas masyarakat dapat dilacak penyebabnya ialah politik jarang mendapat perhatian penuh para individu, kebanyakan orang hanya bersikap pasif sebagai penonton dalam demokrasi. Di samping itu Negara juga tidak pernah berada sepenuhnya dalam kontrol warganya. Oleh karena setelah itu tumbangnya otokrasi seusai Pemilu akan melahirkan banyak homo economicus daripada homo democraticius.

Ini membuktikan bahwa pemahaman demokrasi Indonesia dewasa ini telah melupakan aspek perlawanan demokratis. Yang mana lebih banyak konsensus dibanding disensus dalam keberlangsungan demokrasi. Jika terus dibiarkan akan beresiko pada terjadinya sistem mereduksi demokrasi menjadi tidak lebih dari sekedar label bagi pemerintah untuk berkuasa dan melanggengkan kedaulatannya.


Sumber : Guntur Winanda Putra /  Editor : Author

[Ikuti MarwahRakyat.com Melalui Sosial Media]


MarwahRakyat.com

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Kementerian Pariwisata Sosialisasikan Program Homestay Desa Wisata di Tana Toraja

Wacana Penghapusan Pertalite: Dampak dan Pertimbangan

Buya Muhammad Gazali Menolak Tegas Timnas Israel Ikut Piala Dunia U-20

Kegiatan Babinsa Koramil 09/Lgm Jalin Komsos Bersama Mahasiswa KKN Unri

Tiada Masa Depan Tanpa Hari Kemarin

Tidak Diberi Uang, Diduga YFA Menggugat PSJ

Dr. Gamal: Pejuang Politik PKS Harus Berpolitik Dengan Gaya Baru

Asal Mula Budidaya Kelapa Indragiri Hilir

Yusril: Pemerintah Perlu Mempercepat Vaksinasi ketiga Bagi Nakes

Babinsa Kodim 0313/KPR Sosialisasi Pentingnya Membangun Mental Dan Moral Generasi Muda

Rapor Merah Kinerja Pemkab Pelalawan, Jadi Sorotan Publik

Tokoh Masyarakat Apresiasi Akan Dilaksanakannya Seminar AMDAL di Pelalawan

Terkini +INDEKS

Cegah Dampak Kabut Asap Karhutla, Dompet Dhuafa Riau Bagikan 1.000 Masker Gratis kepada Pengguna Jalan di Pekanbaru

02 Oktober 2026
Berbagi Pengalaman Langka, Pertagas Ajak Para Guru Dalam Panen Madu Lebah Trigona
01 Oktober 2026
Hari Pertama Seleksi Atlet Sepakbola PSSI Inhil Menuju Porprov Riau 2027, 250 Atlet Potensial Ikuti Seleksi
01 Oktober 2026
TGI Goes to School Hadir di SMA Negeri 1 Seberida, Tanamkan Kesadaran Energi, Hukum dan Karakter Generasi Muda
29 September 2026
DPMD Inhil Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah: Teladani Akhlak untuk Tingkatkan Kinerja dan Pelayanan Masyarakat
18 September 2026
Sebelum Terbang ke Tanah Suci, 101 Jamaah Umrah di Batam Dapat Pengawalan Khusus Pemerintah
15 September 2026
BPD KKSS Inhil Akan Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H
07 September 2026
PERTINA Inhil Raih 2 Emas, 2 Perak dan 1 Perunggu di Kejurprov Tinju Amatir Riau
07 September 2026
ISPU Inhil Tercatat 155, Dema Stai Auliaurrasyidin Desak Pemerintah Lindungi Masyarakat Dari Dampak Asap
07 September 2026
KONI Inhil Menggelar Konsolidasi Bersama Seluruh Cabor Sinkronkan Tertib Administrasi
06 September 2026

Terpopuler +INDEKS


50 Jurnalis Muda Ikuti Klinik Bahasa RBM Sinar Kreasi, Semangat Literasi Terus Digaungkan

Dibaca : 598 Kali
ISPU Inhil Sempat Masuk Kategori Tidak Sehat, Ketua DEMA: Jangan Hanya Padamkan Api, Masyarakat Juga Harus Dilindungi
Dibaca : 258 Kali
Harga Kelapa Inhil Anjlok, Syahrul Aidi Minta Pemerintah Intervensi Harga dan Tinjau Kebijakan Ekspor
Dibaca : 1612 Kali
Antrean BBM Belum Ada Solusi, Fraksi PKS DPRD Riau Minta Pemprov Bertindak
Dibaca : 722 Kali
PKS Inhil Teguhkan Nasionalisme, Upacara 17 Agustus Jadi Ruang Meresapi Perjuangan Bangsa
Dibaca : 630 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
MarwahRakyat.com ©2020 | All Right Reserved