• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • News Update
  • Opini
  • Pariwisata
  • Advertorial
  • Politik
  • Tokoh
  • Nasional
  • More
    • Nusantara
    • Fokus Riau
    • Fokus Indragiri
    • Hukrim
    • EkoBis
    • Ragam
    • Pendidikan
    • Tekno-Sains
    • Sport
    • Internasional
    • SosHum
    • Religi
    • Mom-Woman
    • Entertain
    • Sastra Budaya
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
Juventini Inhil Kalahkan IPMI FC 2-0, Melaju ke 16 Besar Bhabinkamtibmas Cup III Sungai Luar
27 April 2026
Melampaui Bansos: Menata Ulang Definisi Fakir Miskin dan Jalan Keluar Struktural Berkelanjutan
18 Maret 2026
Jariyah! Jelang Ramadan, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan Masyarakat Indonesia ke Masjidil Aqsa, Palestina
16 Februari 2026
APBD Tertahan, Denyut Nadi Pemerintahan Sanggup Bertahan?
18 Januari 2026
Solusi Pinjaman Daerah 200 M, Bupati Herman Tegaskan Pembangunan Tidak Boleh Terhenti Ditengah Tekanan Fiskal!
30 November 2025

  • Home
  • Tokoh

Citizen Article #speakUp

Pudarnya Republikanisme pada Preferensi Demokrasi Indonesia

Redaksi Exc.

Senin, 27 April 2020 13:34:37 WIB
Cetak
Foto : Internet

Oleh: Guntur Winanda Putra, Marwahrakyat.com

Filsuf kontemporer Amerika, Michael Walzer, telah memetakan preferensi pada demokrasi, dan salah satunya adalah republikanisme. Preferensi ini harus dikenali perkembangannya karena langsung bersentuhan dengan rakyat (demos) dan pemerintah (kratos). Jika dilihat dalam bingkai bernegara, republikanisme merupakan sebuah tatanan yang berporos langsung pada rakyat. Dengan kata lain rakyat diletakkan sebagai subjek otoritas utama dalam menentukan arah tujuan Negara.

Dengan kerap terjadinya politisasi di dalam demokrasi prosedural telah mengakibatkan pergeseran arti pada politik, sehingga politik dinilai tidak manusiawi dan profan dalam pelaksanaannya. Maka dari itu, republikanisme diharapkan mampu mengembalikan hakikat politik yang mulia, yaitu kebaikan publik. Sesuai dengan apa yang telah direntangkan oleh Aristoteles, politik di posisikan sebagai kepentingan publik atau yang lebih dikenal dengan istilah Res Publika, atau dapat juga di posisikan sebagai etika sehingga politik bukan sekedar cara mencapai tujuan.

TERKAIT
  • Tingkatkan Kualitas Pendidikan Mahasiswa Riau, RAPP Kembali Serahkan Beasiswa Pendidikan
  • Tingkatkan Kerjasama, 5 Universitas di Riau Tandatangani Nota Kesepahaman
  • Penggiat Literasi Rokan Hulu Diskusi Literasi tentang Menulis Berita

Sedangkan di Indonesia sudah mencoba untuk menggunakan ideolistis ini sejak dari pra kemerdekaan lalu pasca kemerdekaan hingga kini. Pada masa pra kemerdekaan Indonesia gagasan republikan dipelopori oleh Tan Malaka melalui tulisan yang berjudul naar de republiek. Tan Malaka berusaha menyuguhkan tatanan bangsa yang hendak merdeka atas secara kolektif.

  Seiring perkembangannya, setidaknya Indonesia sempat memiliki nilai Republikanisme yang hampir sempurna dalam rentang waktu relatif singkat, di mana saat itu para pemuda memainkan posisi sentral dalam perubahan politis. Tercatat ada tiga peristiwa yang membanggakan pada demokrasi Indonesia, dimulai pada tahun 1945, lalu tahun 1965-1966, hingga yang monumental pada tahun 1998 melalui pergerakan Mahasiswa dalam menggulingkan masa orde baru. 

Meskipun memiliki energi yang kuat di awal-awal reformasi, dan dapat dikatakan semakin melek-politik. Namun dengan adanya pergeseran masa membuat energi ini semakin pudar dengan banyaknya kasus penyelewengan serta demokrasi yang berjalan tidak sehat. Saat ini kita hanya dapat melihat republikanisme berkobar secara antusias pada kampanye hingga menjelang Pemilu dan begitu saja usai tanpa adanya pembangunan nilai komunitas politis atau solidaritas sosial dari pemerintah yang terbentuk. Asumsi yang mengatakan bahwa rendahnya kesadaran politik tidak dapat ditunjuk sebagai penyebab tunggal mengapa preferensi republikan kandas seusai demonstasi ataupun seusai Pemilu. Secara realitas masyarakat dapat dilacak penyebabnya ialah politik jarang mendapat perhatian penuh para individu, kebanyakan orang hanya bersikap pasif sebagai penonton dalam demokrasi. Di samping itu Negara juga tidak pernah berada sepenuhnya dalam kontrol warganya. Oleh karena setelah itu tumbangnya otokrasi seusai Pemilu akan melahirkan banyak homo economicus daripada homo democraticius.

Ini membuktikan bahwa pemahaman demokrasi Indonesia dewasa ini telah melupakan aspek perlawanan demokratis. Yang mana lebih banyak konsensus dibanding disensus dalam keberlangsungan demokrasi. Jika terus dibiarkan akan beresiko pada terjadinya sistem mereduksi demokrasi menjadi tidak lebih dari sekedar label bagi pemerintah untuk berkuasa dan melanggengkan kedaulatannya.


Sumber : Guntur Winanda Putra /  Editor : Author

[Ikuti MarwahRakyat.com Melalui Sosial Media]


MarwahRakyat.com

Tulis Komentar


Berita Lainnya

Hidup ini Nggak Selamanya Dhuha

Babinsa Kodim 0313/KPR Sosialisasi Pentingnya Membangun Mental Dan Moral Generasi Muda

Wacana Penghapusan Pertalite: Dampak dan Pertimbangan

Dr. Gamal: Pejuang Politik PKS Harus Berpolitik Dengan Gaya Baru

TUAN GURU SAPAT DAN KEMAJUAN PENDIDIKAN DI INDRAGIRI HILIR (Tulisan untuk menyambut Haul Tuan Guru Sapat Ke-85)

Muskab FPTI Inhil 2025, Dr Sahrudin Ketua Terpilih Lanjutkan Kepemimpinan!

Sempat Diremehkan, kini Herman Bukan lagi Lawan yang bisa di Anggap Sembarangan

APDESI:Kekompakan Para Kades Se-Inhil Beri Empati Sambung Rasa Untuk Almarhum Wayan Diana Kades Sekara

PJJ di Mata Guru PAUD

Ahok: Kok DPRD takut banget sih sama saya?

Integrasi Sains dan Islam dalam Pembelajaran

Hasrat Menjadi Pemimpin

Terkini +INDEKS

Jadi Pionir di Indonesia, Program Satgas PGRI Inhil Diapresiasi dan Mulai Ditiru Daerah Lain

03 Juli 2026
Solidaritas dan Kepedulian, PGRI Inhil Salurkan Bantuan untuk Guru Korban Tanah Longsor di Tanah Merah
02 Juli 2026
Kadis PMD Yuliargo Imbau Kades se-Inhil Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
01 Juli 2026
Sinergi Jaga Kamtibmas, Kasubbag TU Kemenag Inhil Hadiri Upacara HUT Ke-80 Bhayangkara
01 Juli 2026
Diplomasi Moralitas: Wilson Lalengke Serahkan Buku "Ijazah Jokowi" kepada Duta Besar Rusia Sergey Tolchenov
25 Juni 2026
Musnahkan BB Narkotika 1,5 Kg Sabu dan 1060 Pil Ekstasi
25 Juni 2026
Bakti Kesehatan Hari Bhayangkara ke-80, Polres Inhil Hadirkan Pelayanan Kesehatan Gratis untuk Masyarakat
24 Juni 2026
Ngopi Bersama Insan Pers, Ketua PW IWO Riau dan Andi Darma Taufik Bahas Beragam Persoalan Masyarakat
24 Juni 2026
Ketua KNPI Inhil, Mahmudin Apresiasi Kinerja Bea Cukai Tembilahan Musnahkan Barang Ilegal Senilai Rp4,65 Miliar
24 Juni 2026
Bea Cukai Tembilahan Musnahkan Barang Hasil Penindakan Senilai Rp4,65 Miliar
24 Juni 2026

Terpopuler +INDEKS


PSSI Inhil Matangkan Persiapan PORPROV Riau XI 2027, KONI Lakukan Monitoring dan Evaluasi

Dibaca : 314 Kali
Akuatik Inhil Lepas Atlet ke Pekanbaru Ikuti Kejuaraan Riau Akuatik Ke-7 Antar Klub
Dibaca : 226 Kali
Momentum HUT Inhil ke-61, Anggota DPRD Riau Samsuri Daris Sebut Infrastruktur Jadi Keluhan Utama
Dibaca : 625 Kali
Sengit Day 3 Bupati Cup! Hai Cell dan Suka Maju Lolos Lewat Drama Adu Penalti
Dibaca : 549 Kali
Hari Kedua Bupati Cup: Taliban Friend dan Azka RCBN Grup Amankan Tiket ke 32 Besar
Dibaca : 548 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
MarwahRakyat.com ©2020 | All Right Reserved