• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • News Update
  • Opini
  • Pariwisata
  • Advertorial
  • Politik
  • Tokoh
  • Nasional
  • More
    • Nusantara
    • Fokus Riau
    • Fokus Indragiri
    • Hukrim
    • EkoBis
    • Ragam
    • Pendidikan
    • Tekno-Sains
    • Sport
    • Internasional
    • SosHum
    • Religi
    • Mom-Woman
    • Entertain
    • Sastra Budaya
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Disclaimer
  • Kontak
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks
PILIHAN
Polemik Bupati Cup Inhil 2026 Terjawab! Komite Hukum PSSI Tegaskan Turnamen Merupakan Agenda Resmi Organisasi
25 Juli 2026
Pansus RUU Daerah Kepulauan Kunker ke Kepri, Hendry Munief Harapkan Konsep Ekonomi Biru Dapat Diakomodir
22 Juli 2026
Babak 16 Besar Bupati Cup Inhil: Pinang Jaya Melaju Lewat Gol Cantik King Polo
05 Juli 2026
Juventini Inhil Kalahkan IPMI FC 2-0, Melaju ke 16 Besar Bhabinkamtibmas Cup III Sungai Luar
27 April 2026
Melampaui Bansos: Menata Ulang Definisi Fakir Miskin dan Jalan Keluar Struktural Berkelanjutan
18 Maret 2026

  • Home
  • Tokoh
  • Inhil

Ahmad Tamimi

Hasrat Menjadi Pemimpin

Redaksi Exc.

Rabu, 03 Maret 2021 13:26:27 WIB
Cetak
Ahmad tamimi

 

Marwahrakyat.com, Tembilahan- Pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin, pemimpin atas dirinya, minimal keluarganya, dan dalam tulisan ini fokus bahasan adalah kepemimpinan publik secara formal dan non-formal yang penulis rasa menarik untuk kita angkat dipermukaan, sehingga nantinya dapat menjadi renungan untuk kesadaran dalam upaya membangun tradisi baru yaitu sebuah sikap selektif dalam merekrut sosok pemimpin terbaik berdasarkan kemampuan, bukan semata hasrat, popularitas atau materi.

Hasrat membara untuk menjadi pemimpin sering kita temui dalam keseharian yang begitu penuh dinamika, baik pada level organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan maupun kemahasiswaan. Dan di struktural formal seperti posisi Presiden, Kepala Daerah, Dewan Wakil Rakyat dan tak ketinggalan seksi juga adalah posisi kepala Desa yang akhir-akhir ini dominan diperbincangkan. Hampir dapat dikatakan banyak orang yang berminat mengakses beberapa posisi ini, namun kadang kurang pertimbangan keadaan diri atas kehendaknya untuk duduk disana terkait dengan kelayakan dan kemampuan.

Nietzche seorang filosof Jerman mengatakan bahwa ada satu hasrat yang tak pernah padam dalam diri manusia yaitu hasrat untuk berkuasa, dalam teori kebutuhan Maslow dijelaskan bahwa ini adalah dorongan eksistensi, pengakuan serta ke-aku-an seseorang terhadap manusia lain dan di dalamnya ada kepuasan, maka banyak anak manusia berjuang secara mati-matian merebut posisi ini untuk memuaskan hasrat itu. 

Manusia secara fungsi juga telah digambarkan Tuhan dalam al-Qur’an, bahwa ia diciptakan sebagai khalifah (pemimpin) (Qs. al-baqarah: 30) agar menjalankan fungsi kekhalifahannya, yaitu menggandakan kebaikan, kedamaian, keadilan serta kesejahteraan. Peran ini pernah Allah tawarkan pada langit, pada bumi dan lautan, tapi kesemuanya menolak, karena betapa berat amanah dan pertanggungjawabannya, dan akhirnya manusia yang menyanggupi. 

Rasionalitas diterimanya amanah ini sungguh dapat dipercaya, bahwa sosok manusia dibekali instrumen pancaindra, akal dan hati untuk memahami segala ayat-ayat-Nya sebagai potensi sekaligus inspirasi. Maka, konsekuensi manusia dalam menjalankan fungsi kepemimpinan itu harus mengedepankan aspek pancaindra, akal dan hati serta ajaran sebagai ukuran, bukan nafsu yang tidak terbimbing.

Maka, menurut Plato sosok pemimpin ideal itu haruslah seorang Filosof, filosof dalam arti ia punya kafasitas pengetahuan, nilai diri serta kebijaksaaan dalam kepemimpinannya sehingga membuka peluang untuk percepatan kemajuan dan perubahan serta keadilan. Dengan begitu, Plato memahami bahwa memimpin bukan semata hanya menghandalkan kedendak untuk berkuasa tapi sebuah kualifikasi total yang harus ada pada diri seseorang.

Ambisi yang tidak terukur menyorongkan diri untuk menjadi pemimpin termasuk sikap kurang baik, karena sosok pemimpin itu punya ukuran tidak semata berdiri atas kehendak. Dalam dinamika sosial keseharian kita, tekait dengan rekrutmen kepemimpinan telah terjadi pergeseran motif dan nilai yang sangat luar biasa. Pemimpin tidak lagi dipahami sebagai fungsi tapi sebatas posisi yang menjadi semacam panggung eksistensi yang harus direbut secara mati-matian untuk memenuhi ruang kebanggaan bak remot yang memegang kendali. 

Padahal pemimpin itu adalah soal fungsi, yaitu sejauhmana kemampuannya dalam menjalankan tugas dan wewenang dalam satu institusi atau organisasi sehingga tewujudnya target dan harapan bersama. Dengan kata lain harga diri dari sosok seorang pemimpin itu dipertaruhkan pada peran dan fungsinya pada wadah tersebut, jika ia tidak mampu menjalankannya secara baik maka dengan sendirinya posisi itu akan mengejek dirinya sendiri lewat penilain publik. 

Oleh karena itu, memimpin adalah persoalan ilmu dan cara (leadership), pemimpin itu tidak bisa hanya lahir secara alami faktor keturunan oleh sebab kekuasaan, serta kekayaan, tapi harus melalui rekayasa sumberdaya, artinya ada proses penempaan serius yang dilakukan untuk mematangkan kecerdasan, baik itu intelektual, emosional maupun spritual. Sehingga hadir dan tampilnya benar bisa menjawab persoalan. 

Kitapun mengapresiasi setiap individu yang punya niat, tapi niat itu juga harus dibarengi dengan konsep tau diri yaitu terkait dengan kadar, sadar, tensi dan porsi sang diri. Sebab, jadi pemimpin tidak cukup hanya semata dengan niat dan sikap baik, tapi ia juga harus cerdas, punya konsep tentang kemajuan, punya alternatif jawaban atas segala persoalan, kemudian mampu mengoperasikan konsep serta orang-orang sekitar untuk menjadikan sebuah perubahan. Oleh karena itu, jadi pemimpin tidak cukup semata mengandalkan kehendak dan semangat, tapi perlu kalkulasi kemampuan dengan konsep tau diri, periksa diri.

Maka, setiap hasrat dan semangat seseorang untuk berkuasa itu Perlu diuji secara mendalam terkait dengan sikap dan pengetahuannya untuk menjejaki kemungkinan apakah ia benar mampu apa tidak menjalankan roda organisasi atau institusi tersebut. Hal ini untuk menghindari kematian sebuah wadah, disalah fungsikan sebuah wadah serta teraniayanya orang-orang yang dipimpin karena ketidak mampuannya. Dengan sesi uji itu biarlah ia tersisih oleh kemampuanya sendiri, sebab memimpin orang banyak ia harus lebih cerdas dari yang cerdas, harus yang terbaik dari segala yang baik.

Kedepan untuk mewujudkan pemimpin terbaik di wadah dan institusi apapun kita, pertama: perlu mentradisikan “konsep tau diri”. Sebab, pemimpin itu tidak lahir atas kehendak secara dadakan, tapi sebuah proses dan karakter yang terbimbing yaitu lewat rekayasa sumberdaya, rekayasa sosial. Kalau selama ini ia tidak pernah bergaul, memikirkan, membicarakan bahkan berbuat untuk orang banyak lalu tiba-tiba mau dan diangkat menjadi pemimpin, tentu berpotensi menjadi persoalan dikemudian, padahal hadirnya ia justru untuk menjawab persoalan. 

Kedua: untuk mencari yang terbaik, selain seleksi atas mekanisme administrasi, juga butuh seleksi dari mekanisme sosial, artinya diperlukan masyarakat aktif dalam upaya mencari dan menjejaki, menyeleksi hingga menguji sosok pemimpin untuk membimbingnya nanti. Maka, masyarakat harus aktif menguji sosok tersebut terkait dengan rekam jejak, sikap dan pengetahuannya selama ini, apakah ia punya pandangan bagaimana sesungguhnya memajukan oragnisasi, institusi ataupun daerah ataupun negeri ini kedepan. Jangan anggap ia pintar dan cerdas hanya meraba di alam status dan gaya, mentang-mentang kaya lalu dianggap cerdas, tapi benar pastikan bahwa ia mampu membuat perubahan atas kualitas yang dimiliki. Sebab, masyarakatlah yang memproduksi pemimpinnya, seperti apa sosok pemimpin itu, seperti itulah gambaran tingkat kecerdasan masyarakatnya. Jika, dirasa kita masih mendapat sosok pemimpin yang belum mampun wujudkan harapan dan perubahan maka rubahlah cara berpikir dan mencarinya. Sebab, tertumpu hanya pada seleksi administrasi semata, orang jahat dan bodohpun berpotensi memimpin ribuan orang baik dan pintar. 

Inilah beberapa catatan pikiran yang dapat saya ketengahkan, berdasarkan pengamatan atas fenomena rekrutmen kepemimpinan yang selama ini dianggap sepele oleh kalangan masyarakat kita, padahal mereka ingin nahoda yang terbaik tapi abai pada proses mencari dan memilih. Jika tema kepemimpinan ini dipandang sebagai ruh sentral dalam mewujudkan perubahan maka kajian awal saya ini sangat strategis menjadi pengantar untuk dikembangkan pada forum-forum lainnya sehingga nantinya akan lahir tradisi baru dalam rekrut kepemimpnan kita, apapun jenis lembaga atau institusi itu.

 

 Oleh: Ahmad Tamimi (Anggota Bawaslu Kabupaten Indragiri Hilir)


Sumber : Opini /  Editor : Putri

[Ikuti MarwahRakyat.com Melalui Sosial Media]


MarwahRakyat.com

Tulis Komentar


Berita Lainnya

APDESI:Kekompakan Para Kades Se-Inhil Beri Empati Sambung Rasa Untuk Almarhum Wayan Diana Kades Sekara

SBNC Ajukan Surat Keberatan Jawaban Terhadap 7 Instansi ke Bupati Pelalawan

3 Fraksi lakukan rotasi, ini wajah baru anggota Komisi III

Melalui Kodim 0314/Inhil, Marlis Syarif Berikan Bantuan Tabung Semprot Disinfektan Untuk Masyarakat

Tidak Diberi Uang, Diduga YFA Menggugat PSJ

Kapten Arh Diding Sukardi: Bekerja Dan Beribadah Haruslah Seimbang

Buya Muhammad Gazali Menolak Tegas Timnas Israel Ikut Piala Dunia U-20

Door to Door, Dani M Nursalam Bagikan Menu Berbuka Puasa Untuk Masyarakat yang Kurang Mampu

TUAN GURU SAPAT DAN KEMAJUAN PENDIDIKAN DI INDRAGIRI HILIR (Tulisan untuk menyambut Haul Tuan Guru Sapat Ke-85)

In Memoriam: Faisal Basri dan Nyanyian Suara Kritis

Opini: Andres Pransiska dan Arah Baru Desa Teluk Pantaian

Aktivis Pelalawan, Diskusi Pelaksanaan Seminar AMDAL Mengambil Pengalaman Pahit dari PT. Indo Rayon

Terkini +INDEKS

Cegah Dampak Kabut Asap Karhutla, Dompet Dhuafa Riau Bagikan 1.000 Masker Gratis kepada Pengguna Jalan di Pekanbaru

02 Oktober 2026
Berbagi Pengalaman Langka, Pertagas Ajak Para Guru Dalam Panen Madu Lebah Trigona
01 Oktober 2026
Hari Pertama Seleksi Atlet Sepakbola PSSI Inhil Menuju Porprov Riau 2027, 250 Atlet Potensial Ikuti Seleksi
01 Oktober 2026
TGI Goes to School Hadir di SMA Negeri 1 Seberida, Tanamkan Kesadaran Energi, Hukum dan Karakter Generasi Muda
29 September 2026
DPMD Inhil Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah: Teladani Akhlak untuk Tingkatkan Kinerja dan Pelayanan Masyarakat
18 September 2026
Sebelum Terbang ke Tanah Suci, 101 Jamaah Umrah di Batam Dapat Pengawalan Khusus Pemerintah
15 September 2026
BPD KKSS Inhil Akan Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H
07 September 2026
PERTINA Inhil Raih 2 Emas, 2 Perak dan 1 Perunggu di Kejurprov Tinju Amatir Riau
07 September 2026
ISPU Inhil Tercatat 155, Dema Stai Auliaurrasyidin Desak Pemerintah Lindungi Masyarakat Dari Dampak Asap
07 September 2026
KONI Inhil Menggelar Konsolidasi Bersama Seluruh Cabor Sinkronkan Tertib Administrasi
06 September 2026

Terpopuler +INDEKS


50 Jurnalis Muda Ikuti Klinik Bahasa RBM Sinar Kreasi, Semangat Literasi Terus Digaungkan

Dibaca : 598 Kali
ISPU Inhil Sempat Masuk Kategori Tidak Sehat, Ketua DEMA: Jangan Hanya Padamkan Api, Masyarakat Juga Harus Dilindungi
Dibaca : 258 Kali
Harga Kelapa Inhil Anjlok, Syahrul Aidi Minta Pemerintah Intervensi Harga dan Tinjau Kebijakan Ekspor
Dibaca : 1612 Kali
Antrean BBM Belum Ada Solusi, Fraksi PKS DPRD Riau Minta Pemprov Bertindak
Dibaca : 722 Kali
PKS Inhil Teguhkan Nasionalisme, Upacara 17 Agustus Jadi Ruang Meresapi Perjuangan Bangsa
Dibaca : 630 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
MarwahRakyat.com ©2020 | All Right Reserved