
INHIL – Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) terus berupaya menurunkan angka stunting melalui berbagai intervensi dan program, khususnya di desa-desa lokus stunting seperti Desa Belantaraya, Kecamatan Gaung. Hasil analisis data pengukuran stunting di Desa Belantaraya selama periode 2022–2024 menunjukkan sejumlah faktor yang masih menjadi tantangan serta upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini.
Faktor Determinan yang Memerlukan Perhatian
Analisis menunjukkan bahwa beberapa kendala utama dalam perbaikan status gizi balita, khususnya pada anak di bawah dua tahun (baduta), meliputi:
1. Akses sanitasi: Sulitnya mendapatkan air bersih dan jamban sehat di beberapa wilayah.
2. Perilaku kurang sehat: Kebiasaan membuang sampah di sungai, penggunaan jamban cemplung, dan merokok.
3. Keterbatasan ekonomi: Banyak keluarga dengan kemampuan ekonomi rendah mengalami masalah gizi.
4. Pola pemberian ASI: Masih ada bayi yang diberi makanan selain ASI sebelum usia 6 bulan.
5. Pemberian Makanan Tambahan (PMT): Sebagian balita tidak menghabiskan PMT pemulihan karena rasa yang kurang disukai.
6. Pemberian makanan bayi dan anak: Pola pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia anak.
7. Kurangnya informasi: Sebagian masyarakat belum memahami stunting dan cara pencegahannya.
8. Tablet Tambah Darah (TTD): Remaja putri kurang termotivasi untuk mengonsumsi TTD secara teratur.
Intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
Periode 1.000 HPK menjadi fokus utama intervensi, karena menentukan pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas anak di masa depan. Pemerintah Desa Belantaraya bersama Puskesmas dan lintas sektor telah melakukan berbagai upaya, di antaranya:
1. Pengukuran bayi/balita rutin dan validasi data gizi anak.
2. Penyuluhan masyarakat tentang pencegahan stunting.
3. Pendidikan gizi melalui demonstrasi pemberian makanan bayi dan anak (PMBA).
4. Edukasi remaja putri dan ibu hamil mengenai pentingnya konsumsi TTD.
5. Promosi ASI eksklusif dan inisiasi menyusui dini (IMD).
6. Pemberian vitamin A dan obat cacing untuk balita.
7. Penanganan pernikahan dini dengan penyuluhan kesehatan reproduksi.
8. Pemberian PMT bagi bayi/balita gizi kurang dan buruk, serta ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK).
9. Kolaborasi lintas sektor dalam kegiatan edukasi dan pencegahan stunting.
Kelompok Sasaran Berisiko
Pencegahan stunting difokuskan pada kelompok risiko, yaitu remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, bayi, dan baduta. Remaja putri disiapkan untuk menjadi calon ibu yang sehat, sehingga saat hamil mampu melahirkan bayi yang sehat dan cerdas. Bayi juga berhak mendapatkan ASI eksklusif dan makanan sesuai usia agar tumbuh optimal.
Dukungan dan Harapan Pemerintah Desa
Pemerintah Desa Belantaraya mengharapkan dukungan aktif dari berbagai sektor untuk melaksanakan konvergensi pencegahan stunting sebelum Musrenbangdes. Dengan kolaborasi dan partisipasi semua pihak, target penurunan angka stunting dapat dicapai, menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas di masa depan.