Analisis Pengkuran Kasus Stunting Kecamatan Tembilahan Tahun 2024

Jumat, 20 September 2024

INHIL – Kasus stunting di Kecamatan Tembilahan menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan dari 41 kasus pada tahun 2022 menjadi 89 kasus pada tahun 2023. Meski demikian, ada sedikit penurunan di tahun 2024 menjadi 87 kasus. Dari 8 kelurahan di kecamatan tersebut, tiga kelurahan—Pekan Arba, Tembilahan Hilir, dan Sungai Beringin, mengalami kenaikan konsisten dari tahun 2022 hingga 2024, sementara kelurahan lain menunjukkan penurunan angka stunting dari tahun 2023 ke 2024.

Penurunan prevalensi ini sebagian besar didorong oleh berbagai upaya yang diterapkan oleh pemerintah dan lembaga kesehatan setempat. Program konvergensi percepatan pencegahan stunting, meskipun memberikan hasil positif, belum sepenuhnya efektif. Diperlukan tindakan lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk mengurangi angka stunting secara signifikan di masa mendatang.

Langkah-langkah Intervensi yang Dilakukan di Kecamatan Tembilahan

Beberapa intervensi yang telah dilakukan antara lain:

1. Penyuluhan gizi, ASI eksklusif, kesehatan reproduksi, dan perilaku hidup bersih.

2. Pelaksanaan kelas ibu hamil, Posyandu, dan layanan kesehatan lima siklus hidup.

3. Pemberian tablet tambah darah kepada ibu hamil dan remaja putri.

4. Kunjungan rumah bagi ibu hamil berisiko tinggi dan balita bermasalah gizi.

5. Pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) dan balita bermasalah gizi.

6. Inspeksi kesehatan lingkungan, termasuk kualitas air minum, serta pemeriksaan laboratorium di depot air minum.

7. Pendampingan ASI eksklusif dan pemberian vitamin A pada balita.

Kecamatan Tembilahan juga memiliki program inovasi seperti "KECAP MANIS" (kelas pelayanan calon pengantin mandiri dan harmonis) dan "GEMAS" (Gerakan Remaja Sehat) oleh Puskesmas Tembilahan Kota, serta "Rupiah Gizi" (Rumah Pemulihan Gizi) dari Puskesmas Gajah Mada.

Faktor Kendala dalam Penanggulangan Stunting

Namun, berbagai faktor masih menjadi kendala dalam menurunkan angka stunting. Salah satu faktor utama adalah balita yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap, dengan angka mencapai 72% (62 anak). Orang tua yang khawatir akan efek samping imunisasi menjadi salah satu penyebabnya. Paparan asap rokok di lingkungan rumah juga mempengaruhi, dengan 63,2% (55 anak) balita hidup dalam rumah dengan perokok aktif.

Rendahnya tingkat pendidikan orang tua turut mempengaruhi kurangnya pemahaman mereka mengenai pentingnya nutrisi dan pola asuh yang baik. Sekitar 47% ayah dan 46% ibu balita di Kecamatan Tembilahan memiliki tingkat pendidikan rendah. Faktor lain termasuk pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak sesuai standar, kurangnya pemahaman tentang stunting, tidak memberikan ASI eksklusif, hingga kondisi lingkungan yang kurang sehat, seperti tidak memiliki jamban dan akses air bersih.

Perlu Pendekatan Holistik

Untuk mengatasi masalah stunting di Kecamatan Tembilahan, diperlukan pendekatan yang lebih holistik. Edukasi kepada orang tua, perbaikan sanitasi lingkungan, serta peningkatan akses gizi dan kesehatan sangat diperlukan. Dengan kolaborasi lintas sektor dan masyarakat, diharapkan angka stunting dapat diturunkan lebih signifikan di tahun-tahun mendatang.