Analisis Hasil Pengukuran Stunting di Kecamatan Kateman Tahun 2024

Selasa, 10 September 2024

INHIL - Berdasarkan grafik yang dianalisis, prevalensi stunting di Kecamatan Kateman menunjukkan peningkatan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, tercatat 25 kasus stunting, kemudian meningkat menjadi 52 kasus pada tahun 2023, dan terus naik hingga 56 kasus di tahun 2024.

Dari tiga kelurahan dan delapan desa di kecamatan tersebut, dua kelurahan mengalami kenaikan kasus stunting setiap tahun, yaitu Kelurahan Tagaraja dan Kelurahan Bandar Sri Gemilang. Di Kelurahan Tagaraja, jumlah kasus stunting meningkat dari 7 kasus pada tahun 2022 menjadi 11 kasus pada 2023, namun menurun menjadi 10 kasus pada tahun 2024. Sementara di Kelurahan Bandar Sri Gemilang, kasus stunting naik dari 4 kasus di tahun 2022 menjadi 9 kasus pada 2023, kemudian turun sedikit menjadi 8 kasus di tahun 2024.

Selain itu, tiga desa mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah kasus stunting, yakni Desa Sungai Simbar, Desa Kuala Selat, dan Desa Penjuru. Desa Sungai Simbar mengalami peningkatan dari 3 kasus pada 2022 menjadi 15 kasus pada 2023 dan 2024. Di Desa Kuala Selat, jumlah kasus meningkat dari 4 kasus pada 2022 menjadi 11 kasus di 2023, sebelum turun menjadi 8 kasus di 2024. Desa Penjuru, yang hanya memiliki 1 kasus stunting pada 2022 dan tidak ada kasus pada 2023, kembali mencatat 3 kasus pada 2024. Selain itu, Desa Sungai Teritip, yang sebelumnya tidak mencatat kasus stunting pada tahun 2022 dan 2023, melaporkan 5 kasus stunting pada 2024. Di sisi lain, Desa Tanjong Raja dan Desa Makmur Jaya tetap bebas dari kasus stunting selama periode ini.

Upaya Pencegahan dan Tantangan

Berbagai upaya telah dilakukan di Kecamatan Kateman untuk menurunkan angka stunting, termasuk sosialisasi gizi dan kesehatan, pelaksanaan program Posyandu, pemberian tablet tambah darah, serta kunjungan rumah bagi ibu hamil berisiko tinggi. Namun, hasil yang dicapai belum maksimal. Faktor-faktor determinan yang masih menjadi kendala meliputi rendahnya tingkat pendidikan orang tua, paparan asap rokok, kurangnya akses terhadap MP-ASI yang sesuai, dan minimnya fasilitas sanitasi serta air bersih.

Sebagian besar balita stunting di Kecamatan Kateman juga belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap, yang dapat membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit yang memengaruhi status gizi dan pertumbuhan. Rendahnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya gizi seimbang dan air bersih juga menjadi tantangan signifikan dalam penurunan angka stunting.

Melihat data ini, penting bagi semua pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga kesehatan, dan masyarakat, untuk bekerja sama dalam upaya percepatan pencegahan stunting. Diperlukan intervensi yang lebih kuat, komprehensif, dan berkelanjutan untuk mencapai penurunan angka stunting yang lebih signifikan di Kecamatan Kateman pada tahun-tahun mendatang.